
31 Maret 2026 | Baby Saskia Sarah Diva & Adam Rafliansyah
Saat berkendara di kampus, pernahkah Anda tiba-tiba tersentak karena motor atau mobil Anda melewati jalur tanpa disadari? Atau mungkin Anda melewati belokan atau gedung tujuan seolah-olah ada beberapa detik perjalanan yang hilang dari ingatan? Jika iya, hati-hati, Anda telah mengalami microsleep.
Microsleep adalah kondisi tertidur singkat yang tidak disengaja selama sepersekian detik hingga sekitar satu menit, di mana seseorang tidak merespons lingkungan sekitarnya. Kondisi ini berbahaya, terutama saat berkendara, karena dapat menyebabkan hilangnya kendali dan berujung pada kecelakaan hingga kematian(Watson & Zhou, 2016). Studi menunjukkan sekitar 20–30% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk, akibat menurunnya reaksi, konsentrasi, dan kemampuan pengambilan keputusan. Di Indonesia, 79% pengemudi pernah mengemudi dalam kondisi mengantuk, dan 32% di antaranya hampir mengalami kecelakaan fatal (Malpekar & Harne, 2024).
Beberapa faktor yang dapat memicu microsleep adalah (Leechawengwongs et al., 2006):
1. Pengaruh obat-obatan dan alkohol.
2. Kurang tidur akibat tuntutan aktivitas, yang menyebabkan kantuk berlebih saat beraktivitas maupun berkendara.
3. Mengemudi terlalu lama tanpa beristirahat terutama pada durasi lebih dari empat jam.
4. Gangguan tidur seperti OSAS (Obstructive Sleep Apnea Syndrome), narkolepsi, dan insomnia kronis.
Microsleep dapat dialami oleh siapa saja di lingkungan kampus, baik mahasiswa, tenaga pendidik, staf administrasi, maupun petugas lapangan seperti keamanan. Maka dari itu, Anda perlu waspada terhadap gejala awal berikut (Bin Wan Mohd Asri & Bin Makhtar, 2026):
1. Kedipan mata melambat, tidak tertutup sempurna, atau terpejam lebih lama.
2. Sering menguap.
3. Kepala mengangguk atau tubuh condong ke depan.
4. Menggosok mata berulang kali.
Untuk mencegah terjadinya microsleep, berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan:
1. Menjaga kondisi tubuh agar tetap fit, tidak makan berlebihan, dan tetap terhidrasi.
2. Istirahat yang cukup dengan tidur 7–8 jam pada malam hari sebelum berkendara.
3. Mengatur waktu perjalanan dengan beristirahat setiap 2–3 jam.
4. Bergantian mengemudi untuk mengurangi kelelahan.
DAFTAR PUSTAKA
Bin Wan Mohd Asri, W. A. A. S., & Bin Makhtar, A. K. (2026). Analysis of Microsleep Detection System for Driver Sleepiness Detection. In M. H. A. Hassan, A. S. Jamaludin, M. A. Bin Zakaria, F. Usman, & M. Uchidate (Eds), Intelligent Manufacturing and Mechatronics (pp. 559–567). Springer Nature Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-96-7703-0_53
Leechawengwongs, M., Leechawengwongs, E., Sukying, C., & Udomsubpayakul, U. (2006). Role of drowsy driving in traffic accidents: A questionnaire survey of Thai commercial bus/truck drivers. Journal of the Medical Association of Thailand, 89(11), 1845–1850. Scopus,
Malpekar, T., & Harne, S. (2024). DrowsiScan: Early Detection of Driver Drowsiness using Deep Learning. International Journal For Multidisciplinary Research, 6(6), 31576. https://doi.org/10.36948/ijfmr.2024.v06i06.31576
Watson, A., & Zhou, G. (2016). Microsleep Prediction Using an EKG Capable Heart Rate Monitor. 2016 IEEE First International Conference on Connected Health: Applications, Systems and Engineering Technologies (CHASE), 328–329. https://doi.org/10.1109/CHASE.2016.30